Senin, 16 Desember 2013

Saling menyapa dalam diam


Hari ini, jalan yg aku lewatin sama. Pohon, udara dan sekitar juga sama. Bahkan awan pun berarak sama. Namun, ada satu hal yg berbeda. Yaitu hati. Ya hati ini tak sama seperti kemarin. Mungkin kamu tak dapat melihatnya apalagi membacanya. Bagaimana bisa kamu melihatnya kalo kita jarang terlihat. Iya “kita”. Aku yg begitu mengagumi kamu selama ini. Ya memang rasa itu tak seterusnya ada, tapi selalu muncul kembali. Bahkan ketika melihat namamu saja sudah teringat. Namun sayang, kita tak pernah sebegitu dekat, tak punya kenangan untuk diingat apalagi diceritakan. Konyol memang. Aku yg selalu mengagumi mu dan tak henti-henti nya memikirkan mu, tak henti-henti menyebut nama mu di sela-sela udara yg keluar dari mulutku ini. Aku selalu ingin melihatmu, mencari-cari. Tapi ketika bertemu, aku tak berani menyapa apalagi melihat ke arah mu. Aku hanya jalan tertunduk, pura-pura tak melihatmu.melihat pundak mu dari belakang saja aku sudah senang. Apa pundak itu nanti akan menopang ku ketika aku lelah? Apa akan mendekap ku ketika aku sedih? Hanya berangan-angan, tak berharap banyak itu menyadi  nyata. Suara dan senyuman mu yg begitu khas masih terekam rapi di otakku. Tapi ketika suara dan senyuman itu dihadapan ku. Aku hanya tertegun malu. Bergetar, iya bergetar. Ketika kamu menggajakku untuk duduk bersama dan ngobrol. Hati ini berdegup kencang seakan bukan di tempatnya lagi. Tangan ini pun gemetar. Tak banyak suara yg keluar dari bibir ini. Namun dalam hati ingin ku ceritakan semua, tapi mana bisa. Aku tak punya keberanian. Padahal moment ini jarang sekali terjadi. Kita tak pernah berbagi kabar maupun cerita. Bagaimana bisa aku menyukaimu?. Cinta itu memang aneh. Sering aku buang jauh-jauh pikiran tentang mu, namun nyatanya kembali lagi.
saling menyapa dalam diam. Iya itu kata yg tepat untuk menggambarkan semua ini. Berharap perasaan ini sampai terbaca oleh mu. Namun tetap saja ‘tak mungkin’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar